Perjuangan Feminis di Amerika Serikat: Sebuah Spin-off

Tulisan ini juga merupakan ringkasan Bab I buku ‘Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemiran Feminisme’, oleh Rose Putnam Tong. Seperti sudah saya katakan di post sebelumnya, tulisan ini merupakan spin-off  dari tulisan mengenai feminisme Liberal. Saya bisa mengerti alasan Rose Putnam Tong menggabungkan  sejarah feminisme liberal dengan feminisme liberal di AS. Di AS-lah gerakan feminisme berhasil menuntut berbagai perubahan dalam hukum, dan kemudian menjadi standar minimal hal-hal yang harus diberlakukan oleh sebuah negara untuk disebut ‘ramah gender’. Tentunya menyebut AS sebagai negara yang paling ‘ramah gender’ tidak-lah benar, karena saat ini negara-negara yang disebut paling ramah gender adalah negara-negara Skandinavia; Swedia, dll.

Perjuangan kaum feminis di AS dimulai pada paruh pertama abad ke-19. Pada awalnya gerakan-gerakan ini (kemudian lebih terkenal dengan istilah suffragists karena perjuangan mereka untuk memperoleh hak pilih) bersatu dengan gerakan para abolisionis, yang bertekad mengakhiri perbudakan di AS dan di seluruh dunia. Begitu eratnya hubungan kedua gerakan ini di AS sehingga pada Konvensi Anti Perbudakan yang diadakan pada tahun 1840 di London, dua tokoh suffragists turut serta, berharap akan diberi waktu berbicara. Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott harus menghadapi kekecewaan ketika mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbicara dalam konvensi.

Dengan perlakuan yang Stanton dan Mott terima, jelaslah bahwa para suffragists perlu memiliki wadah mereka sendiri. Pada tahun 1848, Konvensi Hak-hak Perempuan pertama diadakan di Seneca Falls, New York. Konvensi ini menghasilkan sebuah Deklarasi Tuntutan (Declaration of Sentiments), pada dasarnya berisi tuntutan untuk mengubah hukum di bidang pernikahan, perceraian, hak milik dan pengasuhan anak.  Yang menarik adalah bahwa dalam konvensi ini tuntutan utama para suffragists di kemudian hari malah tidak disebutkan: yakni hak untuk memilih. Susan B. Anthony mengusulkan hal ini, namun tidak diterima karena kekhawatiran bahwa tuntutan ini akan dianggap terlalu ekstrim dan menyebabkan semua tuntutan ini ditolak.

Konvensi di Seneca Falls dianggap hanya memfasilitasi kepentingan perempuan kulit putih kelas menengah karena ia melupakan kebutuhan perempuan kulit putih kelas pekerja dan perempuan kulit hitam. Pada Konvensi Hak Perempuan di Akron, Ohio tahun 1851 perempuan kulit hitam mulai ikut berbicara. Sojourney Truth membacakan pidatonya yang sangat terkenal Ain’t I a Woman?, menanggapi ejekan laki-laki yang rupanya tidak bisa diabaikan mengenai ketidakmampuan perempuan untuk bahkan naik ke atas kereta kuda tanpa dibantu laki-laki. Pidato ini sendiri sangat worth reading secara terpisah, mengungkapkan segala hal yang telah dialami oleh Truth sebagai seorang perempuan kulit hitam yang mampu menjalaninya walaupun ia sepenuhnya merupakan perempuan.

Pada tahun 1866 Konvensi lain diadakan, menghasilkan Equal Right Association, para suffragists  dan para pejuang civil rights bersatu lagi, kali ini menuntut hak pilih untuk perempuan dan orang kulit hitam.  Equal Right Association kemudian bubar ketika Amandemen ke-15 memberikan hak pilih untuk laki-laki kulit hitam tapi tidak untuk perempuan. Pada perkembangan selanjutnya para suffragists ini malah terpecah dalam dua kelompok yakni NWSA (National Women Suffragists Association) dan AWSA (American Women Suffragists Association).

National Women Suffragists Association dimotori oleh Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony, dianggap sebagai gerakan yang revolusioner dan radikal. American Women Suffragists Association didirikan oleh Lucy Stone, memiliki haluan yang lebih reformis dan liberal. Pada tahun 1890, demi tujuan bersama kedua organisasi ini menyampingkan perbedaan mereka dan mendirikan NAWSA (National American Women Suffragists Association) dan dengan demikian pada tahun 1920 akhirnya diberlakukan Amandemen ke-19, memberikan perempuan hak pilih setelah 72 tahun berjuang.

Para suffragists kemudian juga disebut first wave feminism, untuk membedakannya dengan feminisme yang kembali ramai pada tahun 1960-an yang terkenal dengan sebutan second wave feminism. Disebut demikian karena feminisme selama beberapa decade setelah 1920 relatif diam. Pada tahun 1960an, feminis bangkit lagi kali ini isu utamanya adalah mengenai perempuan di dunia pendidikan dan kemudian di dunia kerja. Ujung tombak feminisme liberal pada tahun 1960an adalah NOW (National Organization of Women), pemikirnya yang paling terkenal adalah Betty Freidan.

Dalam second wave feminism, lebih mudah untuk menguraikan perjuangan kaum feminis liberal secara tematis daripada kronologis. Isu-isu yang kontroversial antara lain adalah masalah perempuan di dunia kerja, aborsi, dan pada masa yang lebih kemudian, homoseksualitas. Perlu diingat bahwa dalam menghadapi semua isu ini, NOW memiliki anggota yang berpandangan konservatif maupun radikal, karenanya hampir semua posisi yang kemudian diambil NOW (sudah pasti dianggap sebagai jalan tengah) tidak berhasil memuaskan semua pihak.

Kontroversi yang pertama dan mungkin paling umum adalah isu mengenai perempuan di dunia kerja. Ini berhubungan erat dengan usaha untuk memastikan bahwa perempuan tidak akan disingkirkan dalam dunia kerja hanya karena dianggap cukup baik. Kemudian ada pula masalah mengenai cuti melahirkan yang perlu diambil oleh perempuan hamil ketika ia bekerja. Proteksi pemerintah kemudian penting karena ia menjamin bahwa seorang perempuan yang melahirkan tidak hanya tidak akan dipecat ketika sedang mengambil cuti melahirkan, namun juga pada tahap berikutnya tetap diberikan gaji penuh.

Sehubungan dengan masuknya perempuan di dunia kerja ada juga masalah mengenai rumah tangga. Siapa yang harus bertanggungjawab atas anak-anak dan hal-hal yang berlangsung di wilayah rumah tangga? Inilah salah satu bagian terbaik dari bab ini, yakni pengakuan sang penulis bahwa Freidan mengulang kesalahan-kesalahan feminis sebelumnya: mengirim perempuan ke ranah publik tanpa memanggil laki-laki masuk ke ranah domestic.

Aborsi juga menjadi salah satu isu yang penting dan controversial dalam perjuangan feminis di abad ke-20. Seperti kita sudah ketahui pada akhirnya front yang pro aborsi menang, para konservatif yang tidak setuju bisa tetap memandang rendah tindakan ini, tapi pemerintah AS tidak menghukum orang-orang yang memilih untuk melakukan aborsi. Hal yang sama juga berlaku untuk homoseksualitas, walaupun ada orang-orang di Amerika yang masih menganggap menjadi gay atau lesbian merupakan penyimpangan seksual, mereka tidak dapat dihukum hanya karena orientasi seksual mereka. Kebebasan yang lebih besar untuk menjadi diri sendiri ini semua berhasil dicapai dengan apa yang awalnya merupakan wilayah perjuangan kaum feminis. Bravo!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s