Kuasa Wanita Jawa: Konkret atau Konsolasi?

Ini tulisan yang berangkat dari pengalaman saya ketika membaca buku Kuasa Wanita Jawa karya Christina S. Handayani & Ardhian Novianto, terbitan LKiS tahun 2004. sedikit banyak, tulisan ini review dan catatan mengenai konflik intelektual yang saya alami dalam proses membaca buku ini. saya akan mulai dengan mengakui bahwa saya tidak akan bisa sepenuhnya menghayati hal-hal yang berusaha disampaikan para penulis buku ini. Biar saya jelaskan kenapa.

Alasan paling mendasar dan sederhana mengapa saya tidak bisa menghayati nilai-nilai Jawa adalah karena saya bukan orang Jawa. Sebaliknya, saya dibesarkan dalam budaya yang jauh berbeda dari budaya Jawa; hal ini makin saya sadari ketika membaca buku ini lebih jauh lagi. Saya orang Papua, dari keluarga di mana semua individu dituntut untuk menjadi sesuatu (their own person). Dalam keluarga dan budaya tempat saya tumbuh, ekspresi individu penting, dan demikian juga keterusterangan dalam interaksi sehari-hari. Dalam hal pemikiran, sepertinya saya bukan feminis, tapi saya berpendapat bahwa kesetaraan gender itu perlu, bahwa jenis kelamin bukanlah factor yang semestinya membatasi seseorang . Ini saya yang membaca dan menulis tentang buku ini.

Budaya Jawa, yang digambarkan dalam buku ini jauh berbeda dengan latar belakang saya. Sebegitu berbedanya, saya heran bagaimana saya bisa survive dalam hidup di Yogyakarta dalam 5 tahun terakhir. Hingga saya ingat kalau saya didukung oleh lingkungan yang toleran, jadi sepertinya survival saya bukanlah karena kemampuan saya beradaptasi tapi karena toleransi orang di sekitar saya.

Ya, budaya Jawa adalah budaya yang sangat mengedepankan harmoni, dan terutama dalam masyarakat di mana interaksi antar individu sangat tinggi frekuensinya tentunya mustahil keadaan selalu damai. Itu seperti dua orang pacaran atau bersahabat tetapi tidak pernah bertengkar; ada sesuatu yang salah. Meskipun demikian, ketika harmoni menjadi nilai yang paling dijunjung tinggi dalam masyarakat, hal-hal yang lain menjadi kalah penting. Dalam budaya Jawa, ini berlaku. Ini berarti pemahaman akan adanya ketidakcocokkan, tapi tetap berusaha sekuat tenaga untuk meredam ketidakcocokkan. Secara singkat, ekspresi individu dalam masyarakat Jawa dibatasi oleh kebutuhan untuk senantiasa menjaga harmoni.

Dengan ideal seperti itu, kuasa kemudian dikonsepsikan. Para penulis dalam buku ini sedikit banyak meminjam dari Benedict Anderson ketika mengontraskan kekuasaan dalam konsep Barat dengan kekuasaan dalam konsep Jawa. Cara ini juga dipilih untuk menunjukkan mengapa sudut pandang Barat tidak bisa dipakai untuk melihat kuasa tersembunyi wanita Jawa.

Konsep Kekuasaan Barat

Konsep Kekuasaan Jawa

  1. Bersifat abstrak
  2. Sumbernya heterogen (beragam)
  3. Jumlahnya tak terbatas
  4. Perlu legitimasi
  1. Bersifat konkret
  2. Sumbernya homogen
  3. Jumlahnya Terbatas
  4. Tidak perlu legitimasi

Singkatnya, dalam konsepsi Barat kekuasaan tampak dalam interaksi dan karenanya bersifat abstrak. Kekuasaan seorang atas orang lain diperoleh karena superioritasnya dalam berbagai aspek (kekayaan, kelas, dll) dan dijalankan dengan cara berbeda maka sifatnya heterogen. Jumlah kekuasaan yang bisa diperoleh tidak terbatas karena dasarnya adalah interaksi dengan individu lain. Kekuasaan dalam konsep Barat, hanyalah berarti sejauh ia memperoleh legitimasi dari pihak lain (Anderson memilih menggunakan istilah morally ambiguous).

Jawa memiliki konsep kekuasaan yang berbeda, yakni keyakinan mendasar bahwa kuasa merupakan entitas tersendiri yang konkrit. Anderson mendeskripsikan kekuasaan dalam konsep Jawa ‘sebagai energi yang tidak kelihatan misterius dan agung yang menghidupkan jagat raya’ (Anderson, 1990: hlm. 22). Dengan demikian,sumber dari kekuasaan tersebut hanyalah satu  dan jenisnya pun hanya satu. Sebagai konsekuensi, kekuasaan yang ada di dalam jagat raya ini terbatas. Namun kekuasaan itu tidak memerlukan legitimasi, ia ada dan dimiliki. Kekuasaan itu singkat kata adalah konsep yang dalam istilah sehari-hari kita kenal dengan kesaktian.

Kesaktian (yang adalah kekuasaan) diperoleh dengan berbagai macam laku tapa: berpuasa, bertapa nglakoni dan olah rasa. Dipercaya dengan seringnya olah rasa serta laku tapa seperti ini seorang Jawa bisa menjadi orang Jawa sejati yakni orang yang menguasai semua kontradiksi yang ada dalam jagat raya dan menyikapinya dengan tenang. Berkuasa berarti memiliki harmoni dalam dirinya. Dalam kepemilikan kekuasaan seperti ini hal-hal yang ekstrim (serta pengungkapan dengan cara ekstrim) tidak memiliki tempat. Yang ada adalah ketenangan.

Dalam interaksi masyarakat yang mengutamakan harmoni, ekspresi individu hanya mungkin dalam lingkup keluarga. Karena itulah keluarga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan seorang Jawa. Wanita dalam pembagian peran menguasai sektor domestik, sementara laki-laki menguasai sektor publik. Karena keluarga sangat penting bagi individu, maka wanita yang menjadi pusat dari keluarga memiliki kuasa atas mereka yang berada dalam keluarga. Termasuk (dan ini hal utama yang ingin disampaikan oleh buku ini) atas laki-laki. Kuasa wanita Jawa penting, karena tanpa harmoni dalam diri sulit mewujudkan harmoni dalam keluarga dan masyarakat.

Ide tentang kekuasaan atas laki-laki kemudian menjadi alasan untuk menyatakan bahwa wanita mempunyai kuasa, dan kemampuan untuk mempengaruhi apa yang terjadi di sektor public karena kuasa kasat mata yang dimilikinya atas laki-laki yang ada dalam keluarganya. Dalam buku ini, ini dinyatakan dalam berbagai contoh kasus di mana seorang istri, bila gagal mengikuti kemauan istri atasan suaminya maka bisa mengancam posisi suaminya. Di mata saya sebagai orang luar ini sekedar penyalahgunaan kekuasaan oleh seorang istri atasan dan bukan contoh dari exercise of power yang baik. Bagi orang Jawa, ini hanya menyatakan betapa tipisnya perbatasan antara sektor publik (yakni pekerjaan suami) dengan sektor domestik (peran penting istri untuk ikut melayani istri dari atasan suaminya, dengan demikian menjamin posisi suaminya).

Bukan berarti bahwa wanita Jawa tidak layak memperoleh kekuasaan ini. Wanita Jawa harus menjawab berbagai tuntutan dan harapan masyarakat. Bagi seorang istri, itu berarti mengorbankan ambisinya untuk diri sendiri dan mengedepankan sukses suami dan anak karena kesuksesan mereka merupakan representasi kesuksesan seorang wanita. Laki-laki Jawa menyadari itu dan karenanya menempatkan wanita dalam posisi yang istimewa dan menghormati wanita.

Buku ini penting juga untuk dibaca karena menawarkan ide yang menarik yaitu bahwa sejauh berhubungan dengan standar Jawa, wanita Jawa sebenarnya memiliki kuasa. Budaya Jawa dikatakan merupakan budaya yang feminine dan karenanya sifat feminine perempuan memiliki ruang untuk berekspresi seluas-luasnya. Pernyataan yang terakhir ini menurut saya merupakan pernyataan yang paling sulit dijelaskan oleh para penulis buku ini. Hingga akhir pembacaan saya, saya masih belum mengerti mengapa budaya yang feminine berarti wanita dengan sifatnya yang feminine otomatis diuntungkan? Bagaimana maskulinitas laki-laki Jawa kalau begitu, bukannya maskulinitas ini berkembang dalam budaya yang feminine?

Kenyataan bahwa Jawa merupakan budaya yang dikatakan feminine (dalam standar yang diciptakan Barat) dan keyakinan bahwa ini memberikan keuntungan bagi wanita adalah lonjakan logika yang tidak berhasil saya pahami. Dalam hal ini, saya rasa kemudian para penulis tidak memudahkan pembaca untuk mengerti standar mana sebenarnya yang sedang mereka rujuk. Hal ini membuat pembacaan buku ini kemudian menjadi melelahkan dan sulit.

Kemudian ada pertanyaan: apakah studi yang mayoritas mengangkat masyarakat desa Jawa dan conduct mereka masih bisa dipakai dalam keluarga Jawa saat ini yang tampaknya tidak se-Jawa yang digambarkan oleh para penulis? Pertanyaan ini penting karena ia berperan untuk menjelaskan apakah kuasa wanita Jawa merupakan realita atau hanya sekedar ideal?

Benarkah bahwa wanita secara sadar menjalankan kekuasaannya secara terselubung? Mengakali batasan-batasan yang telah diberi masyarakat dan mengatasi semua itu ala Jawa, menang tanpa ngasorake (menang tanpa mengalahkan)? Atau keyakinan Handayani dan Novianto ini hanya penghiburan/konsolasi, bagian dari hegemoni? Yakni modifikasi perspektif bahwa wanita sebenarnya berkuasa (dalam status quo), walaupun tidak kelihatan. Dari perspektif feminism ini berpotensi memelihara status quo, di mana perempuan dianggap tidak perlu maju ke sektor publik. Padahal salah satu tolak ukur femisnisme (yang nota bene Barat) dalam melihat kesetaraan bukanlah pengaruh-pengaruh yang tidak kelihatan, melainkan masuknya perempuan ke dalam sektor publik.

N.B.: Maaf, penggunaan catatan kaki menjadi mustahil mengingat tumpang tindihnya sumber informasi yang saya pakai.

 

Referensi:

Anderson, Benedict R. O’G. 1990. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Ithaca, NY : Cornell University Press.

Christina S. Handayani & Ardhian Novianto. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta : LKiS

Advertisements

One thought on “Kuasa Wanita Jawa: Konkret atau Konsolasi?

  1. Kalau saja saya mengenal Anda, saya ingin berdiskusi lebih lanjut tentang buku ini. Topik ini sangat menarik bagi saya, yang dua tahun terakhir banyak berpikir tentang topik maskulinitas dan femininitas. Ada banyak hal yang Anda pertanyakan juga menjadi pertanyaan dalam benak saya.

    By the way, dua orang penulis buku ini adalah sepasang suami istri yang baik yang saya kenal tinggal di Yogya. Namun kini sang istri – yang kata dosen saya “lebih tepat disebut periset daripada psikolog” – telah berbahagia bersama Bapa di surga.

    I like reading your blog anyway 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s