Child’s Play in Auschwitz: Review buku The Boy in the Striped Pyjamas

Ini sesuatu yang harus saya akui: buku ini tidak saya temukan sendiri. Buku ini saya baca setelah mendengar rekomendasi dari teman saya. Buku ini saya beli karena rasa bersalah; saya sudah punya versi e-booknya (ilegal) dan saya merasa wajib menyumbang sedikit untuk kekayaan orang yang menulis (John Boyne) dan penerbit buku ini, terutama karena ini buku yang bagus.

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama; Bruno, bocah berumur 9 tahun yang harus ikut ayahnya pindah tugas dari nyamannya Berlin menuju ke Auschwitz. Pindah ke Auschwitz bukan hal yang menyenangkan; rumahnya yang baru lebih kecil, ia harus berpisah dengan kakek neneknya, dan yang paling utama, ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya di Berlin.

The boy in the Striped Pyjamas cover, picture taken from theage.com

Rumah yang baru itu pun memiliki sebuah peraturan tambahan: Bruno tidak diijinkan menjelajah daerah sekitar rumah, walaupun hanya ke belakang rumah. Bahkan walaupun Bruno bisa melihat ada orang-orang di belakang rumah dari jendela kamarnya; mereka tinggal dalam pagar yang tinggi dan semua orang memakai piyama bergaris-garis. Bahkan walaupun menjelajah adalah hobi Bruno. Bahkan walaupun serdadu bawahan ayah Bruno, dan ayahnya sendiri sering mengunjungi orang-orang berpiyama itu, tetapi entah kenapa mereka  tidak pernah mengunjungi rumah Bruno.

Bruno kesepian. Yang ada hanya kakak perempuannya, Gretel, yang sangat menyebalkan dan Maria, pembantu rumah mereka yang menurut ayahnya digaji terlalu tinggi. Kemudian ada Herr Lizst, gurunya yang berkeras bahwa yang penting untuk dipelajari hanya sejarah dan geografi, bukannya drama dan cerita petualangan bacaan favorit Bruno.

Suatu hari Bruno melanggar perintah ayahnya: ia menjelajah menyusuri pagar kawat yang tampak tak berujung itu. Ia tidak melihat satu orang pun di situ, sampai ia bertemu seorang anak yang berpiyama. Namanya Schmuel, sama seperti banyak orang di dalam pagar itu. Schmuel lahir pada hari yang sama dengan Bruno, limabelas April 1934. Akhirnya Bruno memiliki teman.

Banyak hal yang aneh di mata Bruno. Seperti kekasaran Letnan Kotler terhadap Pavel, seperti kenapa orang-orang itu semuanya berpiyama, kemarahan neneknya kepada ayah, seperti kenapa Bruno tidak bisa bermain dengan anak-anak (pasti ada banyak!) yang tinggal di dalam pagar itu dan cara mengucapkan Out-With dengan benar. Tapi Bruno tidak mengerti, dan dengan tidak mengerti bisa tetap bahagia.

Bagi yang sudah menonton filmnya atau membaca bukunya, cerita ini memang berakhir tragis. Bagi yang belum membaca, buku ini (saya belum bisa merekomendasikan filmnya karena belum nonton) highly recommended. Bahkan untuk orang yang tidak suka membaca pun, buku ini merupakan bacaan ringan yang bisa dengan segera diselesaikan. Sudut pandang yang diambil oleh penulis adalah sudut pandang yang berat, terutama untuk orang dewasa; menjadi anak umur 9 tahun yang tidak mengerti dan melihat lingkungannya dengan matanya yang polos.berakhir tragis. Tapi dengan cara yang tidak biasa, buku ini memiliki ending yang damai. Untuk Bruno setidaknya, yang akhirnya berhasil melepas bayangan tentang tiga sahabatnya di Berlin dan sampai pada keyakinan bahwa Schmuel-lah sahabatnya. Akhirnya Bruno tidak kesepian.

Read, review, recommend!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s