Mengapa MAGiS Harus Dipertahankan?

Hari ini Sr. Inez fcJ menulis di group MAGiS Yogyakarta di facebook, pada intinya menanyakan apakah komunitas MAGiS masih layak dipertahankan? Mengapa? Ini refleksi saya, dan setelah mulai menulis saya pikir ini dapat membantu menjawab pertanyaan itu.

saya pikir saya harus mulai dengan mengaku bahwa ketika mulai menulis ini, saya tidak sedang gembira. Sebaliknya, walaupun saya benci memakai kata-kata yang saya anggap melodramatis, saya tetap akan memakai kata ‘gundah’ untuk menggambarkan perasaan saya. Tulisan ini merupakan hasil dari perenungan sepanjang jalan Bintaran Tengah-Jl.Kaliurang Km. 7,5, dan selama perjalanan yang lumayan panjang itu, hanya gundah yang makin banyak yang saya peroleh. Tadi, begitu sampai di rumah, hal pertama yang saya coba lakukan adalah membaca, hobi saya selama ini. Ternyata membaca tidak membantu, akhirnya saya berlari pada satu-satunya media ekspresi saya selama ini: menulis. Ketika blogpost ini mulai saya tulis, saya sudah selesai menulis di jurnal. Alhasil, saya lelah secara fisik tetapi saya merasa jauh lebih hidup daripada hari-hari yang saya ingat akhir-akhir ini.

Hari ini dimulai dengan saya yang setelah berbulan-bulan tidak bermeditasi, dan hanya bermodal doa hingga dua hari lalu. Dua hari lalu saya tiba-tiba bangun lalu mulai bermeditasi, kemudian semangat saya kembali kendor. hari ini saya kembali bermeditasi dan saya akhirnya mengucapkan doa yang sudah lama tidak saya ucapkan out loud: Tuhan, apapun yang mau Kauberikan pada saya hari ini saya terima. Whatever it is, bring it on, just be with me, and I’ll be okay. Kurang puas, saya tambahi lagi dengan sepenuh hati mendoakan doa Celtic yang di-post @EXAMENme di twitter beberapa bulan lalu:
All whom I love, into Your safekeeping;
All that I am, into Your tender care;
All that will be into Your perfect will.

Kabar gembiranya, doa saya dikabulkan. Namun, tidak dengan cara yang saya anggap menyenangkan.

Semuanya dimulai dengan saya yang pagi ini berangkat ke kantor jam 7 (saya mulai kerja jam 7.30) dan di jalan menyadari bahwa saya belum mengeluarkan laptop yang sudah habis batrenya dari ransel dan karena itu harus kembali ke kost untuk menaruh laptop. Saya hampir terlambat, padahal saya benci terlambat. Di MAGiS (saya lupa pertemuan keberapa) kami pernah diajak mengidentifikasi saat-saat di mana kami rentan pada bisikan roh jahat. Saat-saat paling rentan saya adalah saat saya sudah mau terlambat. Jam 7 pagi, semangat saya masih tinggi dan doa saya masih melekat di kepala, saya berhasil sampai di kantor lebih lambat dari biasanya tanpa misuh-misuh di jalan.

Sayangnya itu ternyata baru permulaan, sore ini saya ada ujian kursus bahasa Belanda jam 4.45 di Karta Pustaka, tapi saya berangkat pukul 4 lewat dari kampus Mrican, dalam standar saya itu sudah lambat dan karenanya saya panik lagi. Apalagi jam 4 itu jam ramai. Di dalam perjalanan berkali-kali kepala saya haru berperang melawan hati. Kepala saya terus-menerus berusaha untuk mengingatkan bahwa kalau saya sampai terlambat, itu takdir. Meski demikian emosi saya masih tidak stabil. Kesadaran tiba-tiba menyerang saya pada saat saya sudah sampai di jembatan layang (selatan UKDW), yaitu bahwa kepanikan, perang dalam diri saya semua ini termasuk hal yang diberikan Tuhan, hal yang saya sudah jamin akan bisa diatasi selama Tuhan tetap bersama saya. Bahkan dalam perjalanan itu pun, saya tersenyum dan kemudian berpikir, ITU TUHAN. Suara yang mengingatkan bahwa saya tidak sendiri melalui ini. Hikmah, lagi-lagi hikmah. Ini semua menjadi hal yang semakin penting ketika perjalanan saya terhambat karena sepanjang jalan Sultan Agung ternyata ada pawai yang mengharuskan saya untuk berputar dua kali dalam mencari jalan menuju ke Bintaran Tengah. Akhirnya saya sampai, dengan petunjuk jalan dari dua bapak yang dengan baik hati memberi jawaban. Dan semua perjalanan itu tanpa misuh-misuh, satu cobaan lagi dilewati. (N.B. ‘Cobaan’ disini dipakai dalam arti luas, karena mengutip Pdt. Hartoyo di gereja ‘Cobaan pun merupakan anugerah’)

Hal yang paling sulit dari hari ini adalah kenyataan bahwa dalam perjalanan pulang saya mulai sambil merenung dan sadar bahwa saya sudah menyulitkan orang di kantor saat ini. Dua orang lebih tepatnya. Orang pertama saya sulitkan karena saya memaksanya untuk menge-print ulang laporan agar sesuai dengan kemauan saya, hanya supaya hati nurani saya bisa lega karena saya jujur di atas kertas. Selain itu karena dia lebih tua dari saya, entah kenapa rasanya saya manja, saya mengandalkan dan bersandar pada dia untuk banyak hal. Orang kedua sama parahnya, saya menolak untuk menjadikan dia sebagai bagian dari kegiatan saya dan karena itu menghambat dia dalam usahanya untuk menjadi bagian dari kelompok. Semakin saya memikirkannya, saya merasa semakin jahat dan lemah. Sepanjang perjalanan saya menuju kost dipenuhi oleh semua pikiran ini.

Menulis saya lakukan, dan bagian ini saya post di blog. Post ini baru saya tulis setelah jurnal saya sudah terisi, jadi proses saya mungkin tidak terlalu kelihatan. Namun saya ingin mencatat bahwa bahkan dalam momen ketika saya begitu gundah, kegundahan itu pun ternyata masih merupakan anugerah. Kegundahan itu juga kemudian menjadi alasan bagi saya untuk menghubungi orang pertama dan meminta maaf, serta bertekad lebih berani mengambil sikap dan melibatkan teman saya yang lain dan membantunya berbaur.

Ini membawa saya pada jawaban pertanyaan yang diberikan Sr. Inez (dan semoga ini membantu menjawab). Pengalaman hari ini sangat relevan karena MAGiS merupakan satu-satunya ruang di mana saya belajar untuk mendekati hidup dengan cara yang demikian. Hal-hal yang tidak membuat nyaman=anugerah=belajar, lalu perbaiki keadaan. Tidak terbayang bagaimana saya menghadapi hari seperti hari ini jika saya tidak mengikuti MAGiS. Lagipula, komunitas di mana saya sudah lama tidak berpartisipasi dan memperoleh jawaban ‘pintu selalu terbuka untukmu’ ketika saya mau bergabung lagi selalu layak untuk dipertahankan. MAGiS is my sanctuary, dan membantu saya menjadikan Tuhan sebagai sanctuary. Saya rasa memberi kesempatan bagi orang lain untuk memperoleh hal ini penting. Minggu besok (tanggal 9 Oktober 2011) saya akan ikut pertemuan MAGiS lagi, semoga saya bisa turut menjadi bagian dari sanctuary ini.

Saya akan mengakhiri post ini dengan kalimat yang agak mirip dengan kalimat terakhir di post saya hari ini: Sometimes it hurts, Lord, but it’s grace, so thank you.

Jogja, 7 Oktober 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s