Tentang Bakat (atau Ketiadaannya)

Sudah lama tidak menulis. Sekarang saya tidak yakin harus menulis tentang apa saja. Tidak ada perjalanan baru menarik yang bisa saya tuliskan, tidak ada tips dan trik baru yang bisa dibagi. Mungkin saya hanya perlu kembali pada alasan saya menulis: untuk menggali saya.
Ini hal yang baru-baru ini mulai saya pikirkan dengan serius (kalau hanya dipikirkan dengan tidak serius sudah dilakukan dari lama), yaitu kenyataan bahwa saya tidak berbakat. saya tidak bisa menari, berolahraga, menjahit, menggambar apalagi melukis. kalau saya cari-cari, ada buku yang bisa dibuat untuk menjelaskan apa yang saya tidak bisa lakukan. di pihak lain, kalau disuruh mendeskripsikan bakat, saya malah gagap. setelah saya renungkan kembali, hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan untuk mengekspresikan diri: menulis.
Penemuan ini berarti, karena akhirnya saya tahu bahwa saya punya bakat, dan juga tahu kalau ada bidang yang bisa menjadi titik berangkat saya untuk berkembang. sepertinya sekarang saya harus rajin ngeblog lagi. Gol menulis dalam waktu terdekat: review The Mute’s Soliloquy-nya Pramoedya (tidak dapat yang  bahasa Indonesia, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu)!
Sekarang sedang berusaha keras untuk menghitung berkat, bukan hanya dengan mengingat tetapi juga dengan bertindak. Seperti pernah dikatakan Paulo Coelho, acting is a way of praying, and this blog is a part of my prayer. Tidak ada alasan untuk tidak maju dan berdoa, when you don’t have luck, you make your own. Terutama kalau rasanya Tuhan tidak sepakat. Remember, acting is a way of praying.

ketak ketik ketak ketik
Advertisements