Drama Mangir, sebuah tulisan tentang Machiavellisme Jawa

Sudah lama tidak menulis, tiba-tiba terbangun dan sadar bahwa banyak membaca tanpa menulis itu sama dengan makan minum tanpa buang air. Jadi ini saya, kembali menulis sambil berharap bahwa waktu tidak menumpulkan kemampuan menulis saya yang memang terbatas.
Beberapa hari lalu saya membeli buku Pramoedya Ananta Toer, berjudul Drama Mangir. Beberapa waktu belakangan ini saya memang menjadi tertarik membaca buku Pramoedya, bahasanya tidak sok sastra, sangat sehari-hari dan mudah dicerna. Tema-tema yang ia angkat pun tema yang sudah lama seharusnya memperoleh minat saya, roman sejarah. Seiring umur, buku-bukunya terasa makin penting dan akhirnya mulai saya baca satu persatu. Tetralogi Buru baru saya baca buku pertamanya, dan saya pasti akan membeli Anak Semua Bangsa, namun kemarin saya melihat bukunya yang lebih menarik perhatian saya: Drama Mangir.
Drama Mangir awalnya menarik perhatian saya karena buku ini mirip dengan cerita yang pernah saya dengar tentang Machiavellisme Jawa. Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, mungkin istilah Machiavellisme Jawa merupakan anakronisme karena cerita itu terjadi sebelum Machiavelli muncul dengan bukunya Il Principe. ini menunjukkan bahwa Machiavelli memang tidak sepenuhnya bersalah untuk semua diktator yang menjadikan bukunya sebagai kitab suci. Keinginan untuk menghalalkan segala daya upaya untuk mencapai tujuan merupakan ‘penyakit’ lama yang universal. Jawa, Mataram tepatnya, tidak terlepas dari penyakit ini.
Mangir berformat drama, dengan teks dan setting panggung segala macam. Ia bercerita tentang momen-momen di mana Wanabaya yang merupakan Ki Ageng Mangir dan Baru Klinting serta tetua perdikan Mangir berdebat tentang prioritas Wanabaya. Mangir saat itu sedang berada dalam perang dengan Mataram yang tengah berekspansi di bawah kekuasaan Panembahan Senopati. Mangir selayaknya negara kota Yunani sedang berusaha mempertahankan otonominya dari Mataram. Di tengah-tengah perang itu Wanabaya jatuh cinta pada seorang penari, Adisaroh dan berniat memperistrinya. Para tetua perdikan (Demang Patalan, Demang Jodog, Demang Pajangan, dan Demang Pandak) serta Baru Klinting enggan menyetujui pernikahan tersebut, mencurigai asal Adisaroh dan rombongannya. Tergila-gila, Wanabaya menolak semua keberatan mereka dan setengah memaksa mereka untuk menyetujui pernikahannya dengan Adisaroh.
Persetujuan diberikan dan pernikahan terjadi. Khas Pram, semua adegan dialirkan tanpa bertele-tele. Ternyata kecurigaan itu benar, Adisaroh merupakan Putri Pambayun, putri pertama Senopati dan Tumenggung Mandaraka yang diakui sebagai ayah Adisaroh adalah Juru Martani, penasihat kerajaan Mataram. Juru Martani adalah machiavelli sejati, bahkan ketika term itu masih belum ditemukan. Empat kali tiga puluh hari kemudian, Pambayun diingatkan oleh Martani akan tugasnya untuk membawa Ki Ageng Mangir ke Mataram untuk dibunuh oleh Senopati. Sisanya adalah sejarah, perlawanan Mangir terhadap Mataram selesai dengan matinya Ki Ageng Mangir dan Baru Klinting di tangan Senopati dan bawahannya.
Permainan kotor Senopati untuk menjadikan Mangir sebagai bagian dari kekuasaannya merupakan cerita yang tidak umum terdengar. Demikian pula dengan keberadaan Juru Martani, yang merupakan otak di balik semua permainan kotor ini. Buku ini selesai dengan matinya Wanabaya dan Baru Klinting dan permohonan Pambayun agar nyawanya pun diakhiri. Pada akhirnya, yang senang hanya mereka yang berkuasa dan menang. Drama Mangir layak dibaca, walaupun formatnya yang teatrikal mungkin terasa mengganggu, tapi pesan dan niat Pram untuk memberi nyawa pada kisah ini berhasil. Di bawah kehausan akan kekuasaan, ada darah dan airmata orang lain. Drama Mangir ditulis dan mengingatkan bahwa Machiavellisme, walaupun istilah itu sendiri relatif baru, merupakan fenomena yang mengatasi ruang dan waktu. Mari berefleksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s