Keterusterangan Machiavelli dalam Il Principle

Baru habis baca buku Il Principle (Sang Pangeran, oleh beberapa penerbit lain, diberi judul Sang Penguasa) karya Niccolo Machiavelli. Wahhhhhh…… Mengejutkan, sebegitu jujur sampai menyeramkan, atau menyakitkan. Tergantung bagaimana kita melihatnya juga sebenarnya…  Tapi kalau kita termasuk orang yang menganggap bahwa keberadaan sebagai manusia adalah cukup untuk menjamin bahwa kita memiliki sifat yang mulia, mari berpikir kembali.

Ketika ada yang bilang bahwa manusia adalah hewan yang berpikir, animal rationale , pernyataan itu kelihatan dalam buku ini. Secara tidak langsung ia ingin mengajak manusia bukan hanya menerima fakta bahwa dalam setiap manusia ada naluri kebinatangan, tetapi juga untuk merangkul sisi kebinatangan itu. Itu, tentunya berlaku kalau kita ingin menjadi orang yang berkuasa. Atau lebih tepatnya, penguasa yang efektif.  Ya, buku ini memang ditulis pada masa awal Renaisans, dan merupakan salah satu tolok ukur utama untuk membaca pergeseran arti ‘manusia’ dalam peradaban Eropa.

Pernyataan-pernyataan dalam buku ini selain mengangkat alis, juga membuat saya bertanya-tanya apakah bila saya lahir dalam jaman yang berbeda, saya juga akan seperti orang yang digambarkan dalam buku ini? Masalahnya sejauh ini saya merasa termasuk orang yang lemah kemauan, hingga agak sulit  untuk membayangkan membunuh orang untuk menciptakan rasa takut dari orang.  Itulah yang diusulkan oleh Machiavelli; lebih baik bagi seorang raja untuk ditakuti daripada dicintai.

Jangan pernah beri lawan anda luka yang kecil, karena jika demikian ia akan bangkit untuk membalas dendam. Hal tersebut merupakan salah satu saran yang diberikan Machiavelli. Sadis? Pastinya, tapi kenyataan itu tidak mengubah kenyataan bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Untunglah saya tidak pernah mengaku sebagai manusia yang baik, karena jika demikian pernyataan ini mungkin akan menohok saya.

Di balik semua pernyataan yang agak nyeleneh itu ada dua fakta penting yang kita ambil; pertama, rasa takut merupakan cambuk yang paling kuat untuk mengeluarkan sisi terdalam (dan terburuk mungkin?) seseorang. Kedua, sama seperti pernyataan-pernyataan di buku ini, ada banyak hal yang kita tidak mau akui, tetapi sebenarnya merupakan kenyataan. Ketika Machiavelli menulis buku ini, hal utama yang menjadi tujuannya adalah untuk menunjukkan cara-cara menjadi seorang pemimpin yang efektif, etika bukan faktor penting. Yang penting adalah hasil, hasil membuat semua sarana menjadi dapat diterima. Sudah pasti ini bila kita renungkan bisa menjadi bahan untuk mengevaluasi diri apakah kemampuan berpikir= kemuliaan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s