In remembrance of Prof. Dr. PJ Suwarno

Minggu kemarin (28/01) saya dan teman-teman pergi mengunjungi Prof. Dr.  PJ Suwarno, dosen kami di ICU RS Panti Rapih. Ketika pulang, ada niat yang kuat untuk menulis sesuatu untuk pengingat peristiwa itu, heegggghhh, sa benci rumah sakit. Saya ke kampus, untuk menulis blog itu biar bisa langsung diupload. Yeah, I didn’t finish it. Right.

Setelah mengunjungi seorang dosen

Sore ini saya bersama beberapa orang teman pergi mengunjungi seorang dosen yang sedang dirawat di ICU Panti Rapih. Kami berangkat berombongan, delapan orang

Saya hanya bergerak sejauh itu. Ada sih, usaha untuk melanjutkan post itu. Seperti biasa, sifat suka menunda saya menang, post itu tidak kunjung selesai. Terhitung hari ini, post itu tidak mungkin lagi selesai. Pak PJ meninggal dunia hari ini, sekitar pukul 10.57 pagi di RS Panti Rapih. Kaget itu pasti, karena sejauh yang kami dengar, pak PJ sudah membaik.

Orang sering bilang bahwa ketika seseorang tak ada baru kita menyadari pentingnya orang itu. Hal yang sama akan saya katakan mengenai peranan seorang pak PJ dalam hidup saya. Pertama kalinya saya bertemu dengan pak PJ adalah pada waktu saya mulai kuliah di Ilmu Sejarah USD, Agustus 2007. Beliau mengajar mata kuliah Sejarah Barat, dan memiliki cara mengajar yang… yaah biasa. Mungkin saya tidak akan menganggap cara mengajar pak PJ sebagai masalah kalau seandainya saya belum bertemu cara mengajar dosen lain yang santai dan rileks.

Ya, old-fashioned adalah kata pertama yang terlintas di benak saya tiap kali memikirkan cara mengajar pak PJ. Ini dipertebal oleh kenyataan bahwa dosen Ilsej USD lain mayoritas adalah dosen-dosen muda dengan cara mengajar yang berbeda-beda. Tidaklah mengherankan bahwa saya agak jengkel, dan tidak bersemangat untuk masuk kelas.

Hal yang sama terus berlanjut hingga semester ke-4 ketika, saya dan pak PJ berhasil saling membuat jengkel; pak PJ jengkel karena saya memang mahasiswa yang tidak akan pernah bisa disebut sopan dalam standar Jawa, saya jengkel karena pak PJ menjadi dirinya sendiri (dalam hal mengajar). Ya, catatan kuliah saya pada semester 4 memang kurang menyenangkan, setidaknya dalam hubungannya dengan pak PJ.

Waktu memang memperjelas segalanya. Semester ganjil kemarin, saya mengambil mata kuliah pak PJ lagi, 2 mata kuliah. Dengan memegang nilai yang kurang memuaskan saya kembali maju dengan mengingatkan diri agar serius menghadapi perkuliahan. The timing was perfect, karena saya menemukan bahwa pak PJ ternyata sangat menyenangkan di dalam kelas, terutama ketika kita menghadapi masalah yang tidak terjawab dalam buku.

Hal ini menyadarkan saya kemudian, bahwa tidak kakunya pak PJ pada semester lalu didasari sebagian oleh kenyataan bahwa di kelas kami berusaha untuk santai namun serius, sedangkan dari segi mata kuliah yang beliau ampu pun memang merupakan bidang keahliannya. Segala sesuatu membaik, dan saya sudah menunggu-nunggu untuk masuk kuliah semester ini dengan pak PJ sebagai dosen untuk dua mata kuliah (Sejarah Tematis dan Praktek Penelitian Sejarah). Sekarang itu tidak mungkin.

Pak PJ Suwarno, selamat jalan, semoga kami yang merupakan mahasiswa bapak bisa mewarisi semangat bapak dalam menjalani bidang keahlian bapak. Dan untuk saya pribadi, karena saya pun berniat jadi dosen, semoga saya bisa memiliki ketekunan, kerajinan dan kedisiplinan bapak dalam mengajar dan berkarya. Maafkan saya pak, kalau saya sering menjadi diri saya sendiri (dan itu biasanya bukan hal yang baik).

NB: dengan resiko merusak struktur tulisan ini, sekilas terlintas hal paling mengesankan dari interaksi saya dengan pak PJ. Waktu itu saya baru pulang dari Jakarta, mengunjungi bapak yang sakit di sana. Sebelum berangkat saya melapor pada pak PJ bahwa saya mau berangkat sekalian minta ijin. Ketika saya kembali dari Jakarta, pak PJ yang bertemu saya di kelas langsung bertanya: Gimana? Bapakmu sudah sembuh? Dari luar, kata-kata itu memang simpel, tetapi ia menghancurkan semua prasangka buruk saya mengenai pak PJ, dicampur rasa bersalah karena saya sering bandel. Semoga hubungan baik singkat itu cukup untuk menebus semua ketidakcocokan selama bertahun-tahun.

Yogyakarta, 5 Februari 2010

Advertisements

2 thoughts on “In remembrance of Prof. Dr. PJ Suwarno

  1. Tulisan mengharukan. Saya sampai mampir di blog ini dan membaca tulisan tentang pak PJ Suwarno sampe selesai karena ingin mengetahui siapa itu pak PJ Surwano. Sebab, dalam artikel yang saya keirim ke semua Jurnal di UGM menuuduh saya mereplikasi distertasinya P.J Suwarno. Padahal, saya belum pernah membaca tulisan beliau. Sungguh menyesal karena tidak bisa bertemu dengan P.J Suwarno karena beliau sudah bahagia di alam baka. Tapi, saya yakin beliau masih hidup dalam tulisan2nya. Saya akan berusaha mencari tulisan beliau dan berkomunikasi dengan beliau lewat tulsian2nya. Terima kasih untuk tulisan kenangan ttg pak P.J yang menarik dan mengharukan. Kalau pak P.J sempat membacanya dari surga, pasti beliau tersenyum gembira. Emilio

    1. Terimakasih… Pak PJ Suwarno ahli sejarah yang bidangnya terutama hukum dan birokrasi.. saya sendiri baru membaca satu karyanya, sejarah ketatanegaraan Indonesia, karna itu saya menulis hanya sebagai mahasiswa yang mengenang dosennya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s