Gereja Mandiri????

Saya baru habis membaca buku lain. Buku dosen sendiri sebenarnya, dan tujuan membacanya pun sangat langsung; supaya bisa nyambung di kelas dalam mata kuliaj Sejarah Gereja Indonesia. Buku yang saya baca kali ini berjudul Menuju Gereja Mandiri: Sejarah Keuskupan Semarang di Bawah Dua Uskup (1941-1981), tulisan Dr. G. Budi Subanar, SJ. Buku ini diterbitkan oleh Penerbitan Universitas Sanata Dharma. (Iya, iya memang terbitan kampus saya sendiri juga)

Buku ini memberikan banyak inspirasi bagi saya, dan juga pengetahuan baru bagi saya yang sangat awam dalam pengetahuan mengenai sejarah agama Katolik di Pulau Jawa. Yang lebih menginspirasi lagi adalah kenyataan bahwa buku ini menyoroti sejarah keuskupan Semarang, dari ketika ia merupakan Vikariat Apostolik hingga memiliki cukup banyak umat dan dirasa perlu menjadi Keuskupan sendiri. Lebih penting lagi (bagi minat saya sebenarnya) adalah bahwa ia menggambarkan bagaimana kedua Uskup awal Semarang (yaitu Mgr. Soegijapranata dan Justinus Kardinal Darmojuwono) menghadapi krisis yang ada dalam lingkungannya.

Mgr. Soegijapranata yang adalah uskup pertama, hidup pada masa peralihan Indonesia yang memiliki begitu banyak warna dan dinamika. Beliau memimpin pada masa Belanda, Jepang, dan hingga kemerdekaan dan pembentukan Indonesia yang baru. Ia menjadi  saksi langsung bagaimana Keuskupan Semarang dimulai dan lumayan enak pada masa Belanda, diinjak-injak haknya pada masa Jepang, dan pada masa penuh konflik pada masa kemerdekaan, dimana Gereja Katolik sendiri sempat menjadi sasaran dari sentimen massa karena kenyataan bahwa Katolik merupakan agama Barat.

Soegijapranata luar biasa menarik karena ia down to earth bukan hanya kepribadiannya tetapi juga pandangannya mengenai peran Gereja. Pada masa Jepang, ia memutar otak untuk membuat Gereja Katolik tetap diijinkan beroperasi dan mempertahankan aset Gereja secara maksimal. Pada jaman kemerdekaan dan revolusi beliau dengan berani mengungkapkan keberpihakannya pada negara Indonesia yang baru lahir – bahkan di tengah ketegangan antara biarawan misionaris yang mendukung atau menolak kekuasaan Belanda. Ia disiplin, namun berangkat dari realita.

Justinus Kardinal Darmojuwono adalah Uskup yang berikut. Pada masanya Indonesia sudah relatif stabil; terkecuali fakta bahwa Peristiwa G30S baru saja terlewati dan adanya ketentuan Pemerintah bahwa semua orang harus memeluk salah satu dari 5 agama yang diakui pemerintah.  Dan juga gencar-gencarnya pembangunan dijalankan.  Justinus Kardinal Darmojuwono memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap kemanusiaan.

Kepedulian tersebut ia ungkapkan dengan melarang orang Katolik untuk terprovokasi  atau ikut bertindak dalam pembunuhan massal yang kemudian terjadi. Beliau juga meminta Presiden (saat itu Soeharto) untuk memperlakukan para  keluarga orang yang disebut komunis dengan adil – Tuhan tahu bahwa permintaan ini tidak begitu didengar oleh Presiden. Selain itu ia juga disibukkan dengan gelombang perpindahan masuk agama menyusul ketentuan yang dibuat pemerintah.  Justinus Kardinal Darmojuwono ingin umatnya memeluk agama Katolik dengan sesungguhnya, dan ini menjadi bagian penting dari programnya terlebih lagi karena generasi itu adalah generasi Katolik Indonesia pertama yang akan menentukan generasi Katolik di Jawa ke depannya.

Yang menjadi benang merah dari kepemimpinan kedua Uskup tersebut terutama adalah visi mereka untuk menciptakan sebuah gereja yang mandiri, tidak hanya secara manajemen tetapi juga finansial. Secara manajemen, berarti  bahwa mereka ingin bahwa Keuskupan Semarang memiliki cukup pelayan bagi umatnya. Secara finansial juga mereka ingin agar Gereja lebih subsisten. Wahh, visi yang luar biasa ambisius untuk ukuran sebua h Keuskupan, tetapi memang idealnya demikian. Sayangnya karena saya tidak beragama Katolik, saya tidak bisa mengungkapkan apakah visi tersebut telah tercapai. But, still, it,s the efforts that counts most.

Membaca buku ini bisa dianggap membosankan atau menantang, terutama kalau anda berlatarbelakang sama dengan saya (bukan Katolik dan bukan Jawa); namun itu semua dalam perspektif. Saya menjadi lebih penasaran dengan struktur birokrasi Katolik Roma. Dan sumber yang dipakai dalam buku ini pun sangat luas dan kredibel (4 Bahasa euy, ROMO BANAR, SA IRI!!!).  Ayo dibaca, keren keren keren!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s