Renaisans Eropa

Dalam pembabakan sejarah Eropa, Renaisans selalu menjadi tonggak utama dalam proses modernisasi Eropa. Sebelum minggu ini, Renaisans hanyalah konsep abstrak, yang hanya saya ketahui definisinya namun tidak saya ,mengerti  substansinya.  Untunglah, saya  lalu menemukan (dan setelah memaksa diri, membaca) buku Alison Brown, yang berjudul Sejarah Renaisans Eropa.  Buku ini terbitan dari Kreasi Wacana tahun 2009 – trims Kreasi Wacana, buku ini…mencerahkan.

Saya bahkan tidak tahu apakah post ini nantinya akan dibaca, atau kalaupun ia cukup beruntung untuk dibaca akan bermanfaat. Tetapi dengan semangat untuk terus memaksa diri saya menulis saya akan terus menjelaskan buku ini dan apa yang saya peroleh dari buku ini.

Renaisans adalah gerakan yang menjadi jembatan antara jaman pertengahan menuju jaman modern. Jaman pertengahan atau abad pertengahan sering dicap sebagai ‘Abad Kegelapan’. Pemberian label ini bukannya tidak berdasar, pada abad pertengahan (mulai dari sekitar abad 5 Masehi hingga sekitar abad ke 15) Gereja  – dalam kebanyakan hal di Eropa ini berarti Gereja Katolik Roma – sangat  berkuasa. Ia menguasai tafsir Alkitab yang pada saat itu masih berbahasa Latin dan karenanya hanya dapat diakses oleh para biarawan. Menjadi pemimpin agama pada saat itu memaksa seseorang untuk terlibat dalam politik, budaya, hukum. Agama, yang menjadi pelindung dari kekuasaan dan juga melegitimasi kekuasaan, adalah sesuatu yang sangat peka.

Perlu juga mengingat bahwa pada saat itu bentuk mayoritas pemerintahan di Eropa adalah kerajaan. Daerah yang lebih bebas dalam hal politik adalah daerah-daerah komuni yang berada di wilayah yang sekarang adalah Italia. Komuni-komuni ini secara teori berusaha menerapkan republikanisme, dengan sistem dewan masyarakat yang diganti secara teratur, tentu saja praktisnya tidak semulia itu – tetap ada keluarga-keluarga yang dominan dalam suatu komuni. Yang paling berperan dalam Renaisans, adalah Florence, kota yang saat ini termasuk dalam World Heritage, Pusaka Dunia, setara dengan kota Petra dan Borobudur.

Florence merupakan kota yang aktif dalam perdagangan, tempat ini dipenuhi orang dan keluarga kaya yang pada gilirannya terus bersaing untuk menunjukkan kehebatan mereka. Persaingan ini diwujudkan dengan berbagai cara, diantaranya yang paling tampak adalah usaha untuk menemukan buku-buku klasik dan mengabadikan diri mereka dalam seni.

Usaha untuk menemukan buku merupakan seni tersendiri saat itu. Buku yang dijual dengan bebas dan umum awalnya adalah buku-buku yang berhubungan dengan keagamaan. Setidaknya hingga muncul Francesco Petrarch, yang disebut sebagai orang yang memulai trend berburu manuskrip.  Melalui upayanya-lah, berburu dan mengoleksi manuskrip menjadi trend di kalangan para orang kaya. Mengingat bahwa pada waktu itu belum ditemukan mesin cetak, sehingga untuk memiliki sebuah buku yang sama dengan seseorang bukan hanya dilakukan dengan membeli, namun juga dengan meminjam dan menyalin – ya, menyalin buku!!!! – untuk dimiliki. Untunglah bahwa jalan bukan hanya muncul ketika kita memiliki kemauan, dalam banyak hal, jalan hampir selalu ada untuk orang yang memiliki uang.  Penyebaran buku berarti bahwa pengetahuan pun beredar; dengan cara inilah kemudian Florence mulai menemukan kebijaksanaan Cicero, Quintillian (yang pada saat itu relatif belum di-Kristenkan, unlike Aristoteles atau Plato) dan mulai mengembangkan komuni mereka.  Ini berarti adanya sekolah, walaupun belum untuk semua orang, tapi pada dasarnya keberadaan sekolah non-agama mulai dikenal.

Dengan perburuan ini pula corak dan kekaguman kepada seni ala Yunani mulai digali dan dikembangkan. Sekali lagi, ego para orang kaya yang ingin menunjukkan kehebatan mereka menjadi penting, karena melalui para orang kaya (yang menjadi patron para seniman) inilah kemudian para seniman mulai membuat lukisan yang dapat dipamerkan dan hasil-hasil seni lainnya. Pada tingkat yang berbeda, para seniman ini juga kemudian dipakai oleh Gereja untuk menghias gedung-gedungnya.

Kedua hal tersebut diatas kemudian membantu beberapa kalangan untuk mulai melanggar apa yang sudah dianggap ‘normal’. Dan dalam suasana itulah Macchiavelli salah satu tokoh modernisasi Eropa terbesar muncul dan mengatakan bahwa seorang pemimpin harus ditakuti (betapa berbedanya denan doktrin Kristen tentang cinta kasih). Dan pencerahan pun mulai bergulir.

Buku ini melihat renaisans sebagai suatu sistem gerakan yang memperbarui paradigma orang Eropa, baik dari segi politik, budaya, seni, dan lain-lain. Kebetulan, saya sama dengan Petrarch, memiliki nafsu yang tinggi akan buku tetapi ( dan ini tidak sama dengan Petrarch) sama sekali tidak memiliki sense seni, jadi yahhhh harap maklum kalau pembahasan buku ini tentang perkembangan teater, ditemukannya teori (?) perspektif oleh Brunelleschi relatif tidak saya sentuh; saya tidak mengerti.  Buku ini tidak tebal kok – 265 halaman, dan supaya kita mengerti bersama, ayo baca, lalu koreksi saya pada bagian dimana saya keliru atau salah mengerti.

Salam, dinihari 3 Februari 2010

Advertisements

One thought on “Renaisans Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s