Mengenang Tragedi Telenovela

Semalam nongkrong sampe tengah malam. Di tengah-tengah begitu banyak tawa, ada satu hal pengalaman yang kalau saya ingat masih menciptakan rasa gemas, lucu, jengkel.

Masih ingatkan dulu kita dibanjiri telenovela? saat saya kelas 1 SMA (yang berarti sekitar 6 tahun lalu, ya ampun…. sa sudah tua!!!!) ada sat telenovela yang selalu saya tonton; Daniela. Tiap mendengar lagu Sobrevivire dimulai, saya pasti akan mulai melekat di depan TV. Bahkan pada hari Jum’at saat ada kebaktian oikumene di sekolah pun, saya rela bolos karena adanya telenovela itu.

Telenovela itu satu dari hanya dua telenovela yang saya ikuti seumur hidup yang sudah 20 tahun. Selain Daniela, Telenovela yang satunya adalah Por tu Amor. Jatuh bangun kehidupan Daniela saya ikuti dengan setia, bahkan waktu tokoh utamanya yang cowok dijebak sampai ada salah paham dimana dia dianggap selingkuh pun masih saya tonton dengan miris. Saya masih ingat hari dimana saya mulai antusias melihat tulisan ‘3 episode terakhir’. Yesss, penantian selama berbulan-bulan akan segera berakhir.

Pada hari dimana episode terakhir diputar, saya sudah duduk dengan manis depan TV, lengkap dengan sayur yang akan dipotong sambil menonton. Telenovela dimulai, dan adegan pun mulai bergulir. dikisahkan Daniella bertemu lagi dengan sang tokoh utama pria (yang ceritanya belum mampu ia lupakan; does those things exist still, seriously?), dan ketika sang aktor  – yang sampai sekarang saya lupa namanya – mulai berkata, ‘bolehkah aku masuk?’ tiba-tiba…. pet! Ada pemadaman bergilir. AGGHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Menyebalkan!!! Yang tragis adalah saya terus duduk di depan TV, berharap bahwa PLN tiba-tiba memperoleh bisikan dari Tuhan untuk menyalakan listrik lagi. Pada kenyataannya, lampu memang tidak terlalu lama mati (itu, tentunya dengan menggunakan standar Jayapura); 30 menit. Kabar buruknya adalah ketika lampu menyala, yang bisa saya lihat tinggal closing credit dari telenovela tersebut.

Menceritakan cerita tersebut di kemudian hari memang lucu (well, in a tragic way, but still), dan setiap kali saya menceritakan cerita itu semua orang tertawa. Yaah memang lucu dan tragis, sama seperti pengalaman Masa Orientasi (maha)Siswa, dan banyak kejadian lain. Tapi mungkin itu juga yang menjelaskan kebencian luar biasa saya pada semua jenis film yang bersambung bila harus mengikutinya di TV. Yahh,  Gi, Gi, sampai saat ini masih terus mencari alasan…

Yogyakarta, 29 Januari 2010

Advertisements

3 thoughts on “Mengenang Tragedi Telenovela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s