Tentang Humanisme Ilmu Sejarah Sanata Dharma

 
Ada saat-saat dimana saya berharap bisa menulis mengenai sesuatu yang bisa dianggap penting. tidaklah mengherankan kenapa saya iri pada Soe Hok Gie yang rajin menulis dan dengan mudahnya. sebagai sesama anak Ilmu Sejarah (walau dari universitas yang berbeda) saya sangat mengerti pentingnya menulis. sayangnya, sudah umum bahwa mengetahui bahwa sesuatu penting tidak berarti bahwa kita pasti akan bisa melakukannya. otak saya hingga saat ini tidak setajam dan sekreatif Gie pada saat ia seumur saya, sehingga alih-alih mengkritik pemerintah, saya hanya bisa memulai dengan apa yang saat ini saya anggap sangat penting dan membanggakan: jurusan saya di Universitas Sanata Dharma, Ilmu Sejarah.
 
Jurusan saya bukanlah jurusan yang bonafit, dan saya curiga bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi jurusan yang menguntungkan kampus layaknya jurusa besar seperti manajemen, teknik, dll. Jelas bahwa untuk menjadi eksis dan membanggakan, kami perlu alasan lain selain kepopuleran. Untunglah sejauh ini, saya selalu bisa menemukan alasan untuk berbahagia dengan jurusan saya: Humanisme yang disanjung-sanjung oleh Universitas Sanata Dharma sepenuhnya terwujud di Ilmu Sejarah.
 
Humanisme yang saya acu disini, bukanlah misi untuk menjadi manusia yang utuh per definisi klasik, tapi bagaimana sebagai sebuah ruang pendidikan ia tidak mengurangi hakikat seorang manusia. Ingin diucapkan dengan mudah? Saya cinta pada jurusan saya karena di dalamnya, saya bukan sekedar orang dengan nomor mahasiswa, melainkan manusia dengan minat dan kebutuhan yang bersifat subjektif. Jurusan, walaupun tidak selamanya memfasilitasi apa yang saya butuhkan, memberi ruang untuk mengekspresikan kebutuhan saya. Adakah sesuatu yang lebih humanis daripada ketika seorang manusia merasa memiliki kebebasan dan hak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa pretensi?
 
“Tak ada pengalaman yang lebih indah daripada pengalaman seorang mahasiswa ketika boleh ‘mengganggu’ dosen”,
demikian ungkap ST Sunardi dalam bukunya Tahta Berkaki Tiga (yee, akhirnya saya bisa mengutip buku juga :-)). Dan kiranya ini menjadi standar maka saya akan berkata bahwa saya memiliki pengalaman yang paling indah yang bisa dimiliki mahasiswa. Apa lagi yang bisa kita katakan mengenai sebuah jurusan dimana peran sebagai dosen dan mahasiswa tidak membatasi kita untuk berdebat, berdiskusi, SMS-an, bercanda, dan berbagi?
 
Ketika saya menggunakan kata berbagi, saya mengartikan ini pada dua level: baik pada tingkatan pikiran (moril), dimana di luar kelas saya bisa bertanya mengenai masalah akademis dan non-akademis, maupun pada tingkatan barang (materiil), seperti ketika pagi ini Pak Sandiwan membawa rambutan dari rumah untuk dimakan bersama; ketika Pak Rio mentraktir sekelas makan gorengan; Pak Anton dan Pak Pur membagi rokok ketika diminta, maupun ketika Pak Herry memberi kopi ketika kami tidak punya.

Saya tidak akan mengatakan bahwa jurusan saya sempurna, tidak semua dari kami akrab satu sama lain, kalaupun kenal ketidakcocokan adalah hal yang biasa. Namun sejauh membuat saya merasa sebagai manusia, jurusan ini memenuhi misinya. Hanya Tuhan yang tahu apakah ketika lulus nanti saya akan menjadi orang seperti apa, apakah saya akan sukses (dengan mengingat bahwa sukses merupakan fenomena yang subjektif); namun saya berani mengatakan bahwa jurusan ini telah berperan dalam membuat saya menjadi manusia yang ‘lebih’. Lebih terbuka, lebih toleran, lebih suka berdialog, dan sebagainya.
 
Di tengah-tengah masalah yang ada, saya tetap memegang teguh klaim awal saya: Di sini (Jurusan Ilmu Sejarah USD) humanisme bukan sekedar konsep. Di Jurusan Ilmu Sejarah, humanisme Sanata Dharma memperoleh bentuknya. Dan walaupun ini akan terasa seperti klaim yang sangat subjektif, saya masih terbuka bagi adanya definisi lain bagi kata ‘humanisme’ yang walaupun tidak seperti definisi saya namun masih tetap membuat manusia menjadi manusia. Toh saya bisa tetap berkata, ketika saya begitu cinta dan bangga pada jurusan saya, kalau saya tidak cinta pada jurusan saya, apa yang saya miliki untuknya?
 
Yogyakarta, 26 Januari 2010
 
NB: Ini tidak sepenting tulisan Gie, tapi semoga tulisan ini bisa menjadi awal dari tulisan lain. Amin
 
 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s