Nasehat yang (Seharusnya Tidak) Diabaikan

 
Masih ingat, waktu kecil dulu ada banyak hal yang sering menjadi bahan nasihat orang tua. Jangan kebanyakan makan, nanti kalau gemuk susah nurunin berat badan (yups, totally correct). Jangan sering main di luar, nanti hitam kayak kantong plastik (saya tidak pernah menyesal memiliki kulit hitam, so not completely correct). Jangan suka melawan orang tua, kalau tidak nanti waktu giliran jadi orang tua pasti sering dilawan juga (belum terbukti, karena saya belum jadi orang tua, tapi kalau dipikir-pikir setelah melihat maraknya kenakalan remaja saya enggan jadi orang tua). Dan satu peringatan yang menjadi sangat penting hari ini, sana terjemahkan buku, kalau kau nanti lupa bahasa Belanda kau akan menyesal.
 
Nasehat terakhir itu berulang kali melintas di benak saya ketika saya mulai kuliah. Saya kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah, dan bahasa yang pernah saya kuasai adalah bahasa Belanda. Ya, saya tidak mengindahkan nasehat itu dan kalau saya ingat lagi sekarang, saya merasa sangat bodoh dan tidak bijaksana. But, give me a break, waktu itu saya berumur 6 tahun dan jangankan terpikir oleh banyaknya sumber berbahasa Belanda untuk kepentingan penelitian sejarah di Indonesia, terutama Papua; keberadaan sejarah sebagai ilmu saja saya belum ngeh.
 
Berkali-kali peringatan itu terlintas di benak saya hari ini ketika mengikuti pelajaran Sejarah Gereja Indonesia yang diampu Rm. G. Budi Subanar, SJ. Mengetahui bahwa ada orang yang bisa meneliti sejarah gereja di Indonesia (yang ternyata bisa diselidik mulai dari abad ke 7) dan mengetahui bahwa ada begitu banyak missing link dalam Sejarah Indonesia yang tak tersentuh karena adanya kesulitan bahasa, merupakan pukulan kuat bagi ingatan saya. Demikian juga adanya banyak hal yang diabaikan dalam penulisan sejarah karena tidak adanya orang yang mau bersusah payah untuk meneliti sumber-sumber lain. 
 
Apakah pesan moral terpenting yang saya peroleh dari pelajaran hari ini? Jangan mengabaikan nasihat dari orang tua, tak peduli se-membosankan apapun nasehat itu. Pada umur 8 tahun, jelas saja gagasan bermain masak-masakan dengan teman seumur jauuuuuuuuuuhhh lebih menarik daripada duduk dan menerjemahkan cerpen dalam bahasa Belanda. Sekarang saya berumur 20 tahun, semoga otak saya (yang bisa mengingat adanya nasehat itu) masih cukup bisa diandalkan ketika saya berniat menggali kemampuan berbahasa Belanda lagi. 
 Yogyakarta, 27 Januari 2010 
 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s